Sektor Restoran &Waralaba Indonesia

Sektor waralaba restoran dan makanan Indonesia masih mengalami ekspansi yang kuat meskipun perlambatan ekonomi karena belanja rumah tangga yang lesu pada semester pertama 2017 (Lihat Outlook Ekonomi Semester II Indonesia: Berfokus pada Investasi). Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf mengungkapkan bahwa sektor kuliner tetap menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia di antara semua sektor ekonomi kreatif. Kemajuan teknologi, terutama media sosial dan layanan pengiriman makanan berbasis online, telah membantu mendorong pertumbuhan sektor ini dengan meningkatkan permintaan konsumen dan memperluas jangkauannya serta basis pelanggan (Lihat Sektor FMCG Indonesia; Dirusak oleh Kepercayaan Rendah tetapi Didorong oleh Ritel Modern).

Sebuah studi oleh Nielsen menunjukkan bahwa 11% warga Indonesia makan di luar setidaknya sekali sehari; Ini lebih tinggi dari rata-rata global 9%

Sejak 2014, sektor waralaba restoran dan makanan Indonesia (Lihat Thirst Quenching: Industri Makanan &Minuman Indonesia) secara konsisten mencatat pertumbuhan yang luar biasa didukung oleh peningkatan pendapatan per kapita negara dan kemajuan teknologi yang telah mendukung perubahan gaya hidup. Menurut Jakarta Dining Index yang diteliti oleh Qraved.com, jumlah restoran kelas atas telah tumbuh 250% dari tahun 2009 hingga 2014. Pada tahun 2013 saja, penduduk Jakarta mengunjungi restoran 380 juta kali dan menghabiskan $ 1,5 miliar USD untuk makan di luar.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa makan di luar telah menjadi bagian dari kegiatan sosial reguler di antara orang Indonesia di mana mereka bersosialisasi dan berkumpul dengan keluarga, teman, rekan kerja, dan mitra bisnis untuk membina hubungan. Tren ini diprediksi akan terus naik sebesar 30% dalam jangka pendek dan menengah.

Perubahan gaya hidup lain yang mendukung pertumbuhan bisnis waralaba restoran dan makanan Indonesia adalah tren yang berkembang di kalangan pekerja di kota-kota besar untuk bekerja berjam-jam baik karena kewajiban atau hanya untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Bagi orang-orang ini, satu-satunya pilihan praktis ketika merasa lapar di malam hari adalah memesan makanan dari restoran. Akibatnya, kelas menengah Indonesia makan lebih sedikit di rumah mereka dan makan lebih banyak. Tren ini telah dikonfirmasi oleh penelitian lebih lanjut; Sebuah studi oleh Nielsen menunjukkan bahwa 11% warga indonesia makan di luar setidaknya sekali sehari. Ini lebih tinggi dari rata-rata global 9%.

Oleh karena itu tidak heran jika berdasarkan data Kementerian Perdagangan, sektor kuliner Indonesia tumbuh sebesar 8,16% pada tahun 2015. Bersama dengan industri fashion dan kerajinan, sektor kuliner menyumbang 50% dari kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB bangsa (Lihat Ekonomi Kreatif Indonesia &Produk Warisan – Kekayaan Peluang).

Selain itu, jumlah franchisor di tanah air, di mana sektor makanan merupakan mayoritas, juga melonjak menjadi 698 unit dengan jumlah total gerai mencapai 24.400 unit. Sebagian besar outlet ini berlokasi di Jawa, terutama di Provinsi Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Dari waralaba ini, 400 adalah franchisor asing, sementara sisanya adalah yang lokal. Omset penjualan tahunan sektor waralaba, menurut Kementerian Perdagangan, mencapai Rp 172 triliun. Namun, tidak semua franchisor di Indonesia terdaftar di Kementerian Perdagangan sehingga data ini bukan cerminan lengkap dari kinerja sektor ini. Hanya 360 franchisor, di mana 308 adalah yang asing, memegang Sertifikat Pendaftaran Waralaba atau STPW (Lihat Hukum Waralaba di Indonesia).

Prospek cerah

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani, sektor kuliner di Indonesia memiliki prospek yang cerah karena, secara budaya, masyarakat Indonesia secara alami cenderung makan di luar. Populasinya yang sangat besar sebesar 255 juta dengan sejumlah besar konsumen muda kelas menengah telah membuat sektor ini semakin menarik.

Sumber: Databoks, Katadata

Aspek lain yang meningkatkan daya tarik sektor ini di Indonesia adalah margin keuntungan yang tinggi sebesar 15-30% dan volume omset penjualan harian yang tinggi. Itulah sebabnya semakin banyak investor, termasuk yang berasal dari luar sektor waralaba restoran dan makanan, berinvestasi langsung ke industri. Hal ini juga didukung oleh kinerja perusahaan sektor waralaba restoran dan makanan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (Lihat Pasar Modal Indonesia: Tumbuh melampaui Ekspektasi).

MAP, misalnya, franchisee Starbucks, Burger King, Domino’s Pizza, Krispy Creme, dan berbagai merek lainnya, diperkirakan akan mencatat peningkatan margin EBIT sebesar 7% pada tahun 2017, naik dari tahun sebelumnya sebesar 6,1%. Tim riset Mandiri Sekuritas memperkirakan laba bersih perseroan pada semester I-2017 tumbuh sebesar 200% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menyumbang 41% dari target pertumbuhan tahunan perusahaan pada tahun 2017.

PT Indoritel Makmur Internasional Tbk, anak usaha PT Indofood Sukses Makmur yang bisnis utamanya berada di sektor penyewaan serat optik namun kini memegang 35,8% saham PT Fast Food Indonesia Tbk, franchisee Kentucky Fried Chicken (KFC) juga melaporkan hal yang sama. Perusahaan mengumumkan bahwa penjualan KFC tumbuh 12,7% pada semester II 2017 menjadi Rp 2,61 triliun.

Sriboga Raturaya, pemilik waralaba Pizza Hut dan franchise Marugame Udon di Indonesia juga telah melaporkan ekspansi yang sehat selain pengenalan merek waralaba lebih lanjut yang disebut Boat Noodle pada tahun 2017.Dukungan yang lebih mengatur diperlukan

Terlepas dari berbagai sisi positif, sektor waralaba restoran dan makanan di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satu tantangan ini adalah tingkat kegagalannya yang tinggi; Terutama di antara mereka yang mengikuti tren jangka pendek tanpa rencana bisnis yang sehat dan modal yang besar. Tidak jarang melihat restoran baru dibuka, ramai oleh pengunjung untuk sementara waktu, dan kemudian ditutup selama beberapa bulan.

Selain meningkatnya persaingan, sebagian besar pemilik restoran dan franchisee kekurangan modal dan keterampilan bisnis untuk mengelola bisnis mereka. Itulah sebabnya, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan dalam memberikan pinjaman berbunga rendah dan pelatihan bisnis.

Ini sangat penting karena sektor waralaba restoran dan makanan telah berkontribusi secara signifikan terhadap ekonomi negara. Menurut Asosiasi Waralaba Indonesia (AFI), sektor ini mempekerjakan tidak kurang dari 150.000 pekerja di seluruh negeri dan membantu mendorong ekonomi nasional maupun lokal.

Pemerintah Indonesia telah berjanji akan menyediakan dana dan membantu mempromosikan merek lokal di luar negeri. Saat ini, lima merek waralaba domestik Indonesia telah berkembang di luar negeri seperti J.Co, Es Teler 77, dan Baba Rafi, antara lain.

Untuk membantu membawa bisnis waralaba lokal ke tingkat berikutnya, kepala AFI Mr Anang Sukandar telah mengusulkan agar pemerintah menerapkan konsep waralaba mikro (Lihat Gambaran Sektor Keuangan Mikro Indonesia: Komponen Kunci untuk Pertumbuhan Berkelanjutan). Dengan pendekatan ini, pemerintah Indonesia akan mendorong bisnis lokal yang mapan untuk mewaralabingkan produk mereka. Dalam rencana ini, biaya waralaba akan lebih rendah untuk menarik lebih banyak calon franchisee untuk membantu memperluas bisnis di seluruh Indonesia. Konsep ini masih dalam kajian untuk dimasukkan dalam roadmap waralaba nasional untuk Indonesia.

Di sektor restoran, kebijakan pemerintah untuk mengecualikan sektor ini dari daftar investasi negatif (DNI), sehingga memungkinkan investor asing untuk memegang kepemilikan 100%, dikritik oleh beberapa pelaku bisnis (Lihat Daftar Investasi Negatif Baru Indonesia: Perubahan Apa, Apa yang Tetap Sama?). Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi B Sukamdani mengatakan, ada banyak pemain kecil dan menengah di sektor restoran dan katering. Itulah sebabnya Apindo meminta BKPM untuk menerbitkan peraturan pelaksana yang akan membatasi jumlah minimum investasi asing sehingga dapat melindungi UKM (Lihat UKM Indonesia: Peningkatan Dukungan Pemerintah untuk Mengatasi Tantangan).

Kendala lainnya adalah proses mendapatkan sertifikat halal yang memakan waktu dan mahal. Presiden Indonesian Chef Association (ICA) 2017-2022, Chef Henry A Bloem mengatakan bahwa pemerintah harus memfasilitasi pemilik restoran dalam memperoleh sertifikasi halal dengan menyederhanakan prosedurnya dan menurunkan biayanya (Lihat Kebangkitan Wisata Halal di Indonesia).

Teknologi untuk menjadi pendorong pertumbuhan baru

Perkembangan teknologi baru berbasis internet; khususnya media sosial dan layanan pesan-antar makanan online, telah mengubah sektor waralaba restoran dan makanan di Indonesia. Media sosial telah mendefinisikan kembali dan membentuk kembali pemasaran dari mulut ke mulut yang merupakan aspek yang sangat penting dari pemasaran konsumen di Indonesia (Lihat Indonesia dan Internet; Online &On the Move).

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *