Model Pengembangan Kuliner: Daya Tarik Destinasi untuk Tingkatkan Kunjungan

Pariwisata adalah faktor andalan Indonesia dalam meningkatkan perekonomian negara, karena cukup besar dalam mendatangkan devisa dan pendapatan daerah karena budaya dan keindahan alamnya yang unik. Optimalisasi sektor pariwisata cukup efektif untuk menarik wisatawan berkunjung ke Indonesia. Salah satu sektor pariwisata yang potensial dan digemari adalah kuliner. Jika potensi ini dikembangkan, itu akan berdampak pada meningkatnya kewirausahaan di sekitar, termasuk usaha kecil dan menengah. Hal ini didukung oleh penelitian lain bahwa suatu daerah yang mampu melayani dan menawarkan sektor kuliner dapat meningkatkan daya tarik wisata. Namun, dengan keragaman makanan tradisional lokal, peran industri kuliner pada umumnya masih kurang mendapat perhatian, dan dukungan seperti peraturan diperlukan untuk mengatur dan mendukung pengembangan pangan lokal. Oleh karena itu, diperlukan model yang terintegrasi dengan dukungan pemerintah, industri kuliner, komunitas dan media. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei terhadap konsumen di Bandung, Medan dan Jogjakarta dengan total responden 360, serta melakukan focus group discussion dengan pengusaha kuliner, dinas pariwisata, dan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Dari hasil tersebut, diperoleh model terpadu dalam meningkatkan jumlah wisatawan dan akan meningkatkan usaha kecil dan menengah yang mendukung perekonomian nasional. Kata kunci

Pariwisata, Kuliner Lokal, Perusahaan, Integrasi.Introduction

Berdasarkan imbauan pemerintah, sektor pariwisata harus dipromosikan lebih intensif karena saat ini pariwisata merupakan sektor unggulan yang berkontribusi besar terhadap peningkatan ekonomi Indonesia. Salah satu kontribusi besarnya terhadap peningkatan ekonomi adalah dari sektor riil, yaitu industri makanan. Ini adalah peluang besar bagi industri kuliner karena saat ini, makanan tidak hanya kebutuhan utama tetapi juga menjadi gaya hidup masyarakat untuk mengendurkan kebutuhan rekreasi mereka dalam berburu kuliner. Hal ini didukung oleh data bahwa industri makanan dan minuman merupakan penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar untuk kategori industri nonmigas di Indonesia (Kemenperin, 2016). Dilihat dari sudut pandang industri kreatif, industri kuliner memberikan kontribusi porsi terbesar terhadap pengembangan industri kreatif setelah industri kerajinan dan fashion (Research &Education, 2017). Hal ini mendukung program dinas pariwisata yang mengoptimalkan destinasi favorit yang dapat menarik banyak wisatawan.

Beberapa kota yang disebut oleh pemerintah sebagai destinasi favorit berlomba-lomba memanfaatkan peluang ini. Kota-kota ini memiliki berbagai produk unggulan terutama pangan lokal yang menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk dikembangkan menyambut wisatawan. Wisata kuliner benar-benar berbeda dengan jenis wisata lain pada umumnya karena wisata kuliner lebih menyukai makanan, kepuasan rasa dan kekhasan makanan atau hidangan (Okech, 2014). Ada berbagai macam industri kuliner, mulai dari bisnis restoran yang mencakup elemen produk dan jasa, hingga kreasi yang berfokus pada makanan dan minuman olahan yang dapat menjadi spesialisasi suatu daerah. Jika hanya berfokus pada makanan dan minuman olahan, maka setiap produk harus memiliki atribut yang melekat padanya. Kota Bandung, Medan dan Jogjakarta adalah destinasi wisata yang dirujuk oleh Kementerian Pariwisata, sedangkan wisatawan yang datang ke kota-kota tersebut bisa berkunjung lebih dari satu kali. Hal ini disinyalir karena makanan lokal benar-benar terkenal dan disukai, sehingga wisatawan sering kembali karena mereka merindukan makanan lokal. Namun, apa yang masih belum diketahui: 1) bagaimana potensi kuliner Kota Bandung, Medan dan Jogjakarta? Selain itu, peran pemerintah daerah perlu dibenahi dalam mendukung upaya Kementerian Pariwisata untuk menghimbau wisata kuliner yang berpotensi berkontribusi terhadap pendapatan daerah. 2) peraturan seperti apa yang harus dirancang sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pengembangan pangan lokal, atau juga melokalisasi kawasan kuliner yang berpotensi menjadi daya tarik wisata utama kota dan lain-lain. 3) bagaimana model pengembangan kuliner yang mendukung pariwisata yang mempertimbangkan integrasi dari berbagai pihak? Tinjauan Literatur

Berdasarkan penelitian Komaladewi dkk( 2017), wisatawan yang berkunjung ke Bandung umumnya kembali ke Bandung karena makanannya yang memuaskan, misalnya adalah daya tarik penyajian makanan dan rasa makanan yang menyebabkan mereka ketinggalan. Selain itu, juga dinyatakan bahwa pelayanan cepat sangat penting, tidak hanya rasa dan penyajiannya, tetapi juga fasilitas parkir juga mendorong masyarakat untuk mau berkunjung ke Bandung. Sukenti (2014), gastronomi Indonesia dengan segala keragaman dan keunikannya merupakan salah satu daya tarik wisata potensial yang dapat mendukung sektor pariwisata. Sims (2009) menyatakan bahwa makanan lokal merupakan pengalaman yang harus dirasakan oleh konsumen untuk memanjakan lidahnya. Selain itu, Lynn et al. (2017) menyatakan bahwa secara umum wisatawan mencari makanan asli lokal secukupnya yang mewakili daerahnya sebagai pengalaman yang tak terlupakan. Baltescu (2016) menyatakan bahwa makanan lokal dapat menjadi daya tarik wisata karena kekhasan dan keunikan makanan itu sendiri.

Menrad (2003) berpendapat, penelitiannya menunjukkan bahwa makanan yang dicari oleh konsumen memiliki kategori: 1. Penampilan. 2. Kesegaran dan 3. Kesehatan. Beberapa kategori menjadi rangsangan bagi konsumen untuk mengambil keputusan dalam memilih makanan. Konsumen yang puas setelah mengkonsumsi makanan akan dengan mudah membagikan informasi tersebut kepada publik, sehingga proses komunikasi dari mulut ke mulut dapat berjalan dengan baik. Di sisi lain, Al Yousuf dkk.(2015) menyatakan bahwa pemerintah harus mendukung regulasi khususnya dalam industri pangan, karena dalam skala yang lebih besar, mungkin ada makanan yang tidak higienis dan berbahaya sehingga konsumen mungkin khawatir dengan ketahanan pangan. Oleh karena itu, pemerintah harus proaktif dalam regulasi perlindungan pangan yang disebut Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Pemerintah mengeluarkan keamanan pangan untuk memberikan perlindungan konsumen dan memastikan bahwa semua makanan selama produksi, penanganan, penyimpanan, pengolahan dan distribusi aman, sehat, dan cocok untuk konsumsi manusia; sesuai dengan persyaratan keselamatan dan kualitas; dan secara jujur dan akurat diberi label sebagaimana diatur oleh hukum.

Chaney &Ryan (2012) mengusulkan agar wisatawan akan makan di objek wisata yang mereka kunjungi dan itu akan berdampak besar pada penilaian tujuan. Beragam pilihan untuk bersantap bisa menjadi pilihan untuk berlibur. Dalam pariwisata, masakan lokal dan internasional biasanya digunakan sebagai branding untuk mendukung identitas yang ada. Menurut Zsarnoczky (2018) “esensi kuliner suatu bangsa” menarik wisatawan domestik dan internasional. Idealnya, wisatawan, pariwisata profesional, dan masyarakat lokal harus sama-sama puas dengan budaya kuliner lokal. Keberhasilan budaya kuliner lokal terbukti ketika masyarakat setempat mengkonsumsi makanan serupa dengan yang ditawarkan kepada wisatawan. Metodologi

Analisis yang dilakukan dalam penelitian yang digunakan ini dilakukan melalui 1) Spider Web Chart dalam menentukan potensi wisata kuliner peta 2) Focus Group Discussion (FGD) dengan pakar kuliner, pengusaha kuliner dan beberapa konsumen (Gambar 1). Penggunaan pendekatan ini sebagai dasar penentuan rancangan kebijakan diselesaikan dengan model pembangunan. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei terhadap konsumen di Bandung, Medan dan Yogyakarta dengan total responden 360 (observasi dilakukan terhadap 30 restoran dari 3 kota), serta melakukan focus group discussion dengan pengusaha kuliner, dinas pariwisata, dan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Itu menentukan peta potensi kuliner lokal di setiap kota menggunakan grafik web laba-laba. Grafik laba-laba, juga disebut grafik radar, grafik web, grafik kutub, dan plot bintang, dinamai oleh penampilan khusus. Ini adalah grafik yang menggunakan grafik dua dimensi untuk menampilkan struktur data multi-dimensi (Meyer, 2012).

Gambar 1 Metode Penilaian FoodResults Lokal

Berikut hasil data primer berdasarkan pilihan konsumen yang berkunjung ke restoran Bandung, Medan dan Jogjakarta.

Peta Potensi Kekuatan Produk Kuliner Lokal Bandung

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *