Ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia – Wikipedia

CASA/IPTN CN-235 adalah pesawat angkut bermesin ganda jarak menengah yang dikembangkan bersama oleh CASA spanyol dan IPTN Indonesia sebagai pesawat regional dan transportasi militer.

Indonesia tidak dianggap sebagai salah satu negara terkemuka dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, ada banyak contoh perkembangan dan prestasi ilmiah dan teknologi yang terkenal yang disumbangkan oleh orang Indonesia. Meskipun menjadi negara berkembang, Indonesia adalah salah satu dari segelintir negara yang telah mengembangkan teknologi kedirgantaraan mereka sendiri. [1]

Sejak pemerintahan Joko Widodo, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia menjadi salah satu aspek yang menjadi sasaran reformasi. Saat ini, setelah reformasi 2021 dalam urusan sains dan teknologi Indonesia, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Penelitian dan Teknologi republik adalah badan resmi yang bertanggung jawab atas pengembangan sains dan teknologi di negara ini setelah pembubaran Kementerian Riset dan Teknologi. Pemerintahan Joko Widodo juga membentuk Badan Riset dan Inovasi Nasional, sebagai satu-satunya superagensi pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan teknologi multidisiplin yang didedikasikan untuk sains dan penelitian di negara ini, menggantikan Institut Ilmu Pengetahuan Indonesia (Bahasa Indonesia: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI) dan lembaga penelitian dan pengembangan negara lainnya.

Sejak 2018 pemerintah Indonesia meningkatkan alokasi Penelitian dan Pengembangan mereka. Pada 2018, pemerintah mengalokasikan Rp 33 triliun (sekitar US$ 2.317.985.439 per 6 September 2021). Pada 2019, pemerintah mengalokasikan Rp 35 triliun (sekitar US$ 2.458.469.405 per 6 September 2021). Pada 2020, pemerintah mengalokasikan Rp 36 triliun (sekitar US$ 2.528.712.000 per 6 September 2021) untuk penelitian dan pengembangan. [2] Meskipun telah meningkat tren selama bertahun-tahun, itu sangat kecil, kira-kira sekitar 0,31% dari Produk Domestik Bruto Indonesia. [3] Tidak hanya itu, kontribusi sektor swasta terhadap riset Indonesia sangat rendah. Pada tahun 2020, 83,88% dana penelitian mengandalkan pemerintah, diikuti oleh universitas (2,65%), perusahaan bisnis (9,15%), dan kelompok swasta nirlaba (4,33%). [4] Riwayat[edit]

Hidup dalam budaya agraris dan maritim, masyarakat kepulauan Indonesia telah menjadi terkenal dalam beberapa teknologi tradisional, terutama di bidang pertanian dan kelautan. Di bidang pertanian misalnya, orang-orang di Indonesia dan banyak negara Asia Tenggara lainnya, terkenal dengan budidaya padi dan teknik seperti terasering. Sistem lokal irigasi kompleks dan pengelolaan air telah dikembangkan di kepulauan. Contoh yang luar biasa adalah Subak, sistem irigasi Bali.

Ras Melayu (yang termasuk orang Jawa, Sulawes, Filipina dan sub-kelompok lainnya dari Indonesia Timur, dikurangi orang-orang dari wilayah Irian) dari Nusantara sudah mencapai pelaut setidaknya sejak 1500 tahun B.C. Selama era itu distribusi kapur Barus sudah mencapai Mesir kuno. [5] Orang-orang Melayu mengembangkan tanja berlayar beberapa ratus tahun B.C., Yang mempengaruhi orang-orang Arab untuk membuat layar lateen mereka dan Polinesia untuk membuat cakar kepiting mereka berlayar. Ini adalah penemuan signifikansi global, karena kemampuannya untuk berlayar melawan angin. Mereka juga dibuat jong sail (rig sampah), dan pada abad ke-2, rig sampah telah diadopsi oleh Cina sebagai jenis layar pilihan mereka. [7] [8]

Melayu juga mencapai Madagaskar pada awal milenium ke-1 Masehi dan menjajahnya. Pada abad ke-8 Masehi, mereka sudah mencapai sejauh Ghana, kemungkinan menggunakan kapal Borobudur outrigger dan perahu jong. Sebuah catatan Cina pada tahun 200 Masehi, menggambarkan Po K’un-lun (yang berarti “kapal /perahu dari K’un-lun”- Baik Jawa atau Sumatera) sebagai mampu membawa 600-700 orang dan 260-1000 ton kargo. [11] [12]

Orang Konjo, Ara dan Lemo-Lemo dari pulau Sulawesi di Indonesia timur juga terkenal dengan teknologi pembuatan kapal mereka. Mereka terkenal karena membuat kapal layar kayu yang disebut palari, menggunakan sistem layar (rigging) yang dikenal sebagai pinisi. [13] Adalah kesalahpahaman umum bahwa orang Bugin, Makassar, dan Bira membangun kapal-kapal ini, pada kenyataannya mereka hanya berlayar, bukan pembangun. [14]

Orang Jawa dan Melayu, seperti etnis Austronesia lainnya, menggunakan sistem navigasi yang solid: Orientasi di laut dilakukan dengan menggunakan berbagai tanda alam yang berbeda, dan dengan menggunakan teknik astronomi yang sangat khas yang disebut “navigasi jalur bintang”. Pada dasarnya, navigator menentukan busur kapal ke pulau-pulau yang diakui dengan menggunakan posisi naik dan terbenamnya bintang-bintang tertentu di atas cakrawala. [15]: 10 Di era Majapahit, kompas dan magnet digunakan, dan kartografi (ilmu pemetaan) dikembangkan: Penggunaan peta yang penuh dengan garis longitudinal dan melintang, garis rhumb, dan jalur rute langsung yang dilalui oleh kapal dicatat oleh orang Eropa, sampai-sampai Portugis menganggap peta Jawa sebagai peta terbaik pada awal 1500-an.[16][17]

Dalam arsitektur, penduduk asli Indonesia telah mengembangkan arsitektur vernakular mereka sendiri. Beberapa contoh bangunan arsitektur Indonesia yang signifikan adalah Rumah Gadang dari Minangkabau, Tongkonan toraja, dan omo sebua dari Nias. Omo Sebua terkenal karena desainnya yang kokoh namun fleksibel yang memungkinkannya untuk melawan gempa bumi.

Pada abad ke-8, kerajaan Jawa Medang Mataram mengembangkan teknologi arsitektur batu bata canggih di gedung candi (candi). Ini termasuk candi Borobudur yang megah, candi Prambanan, dan banyak candi lainnya. Teknik arsitektur yang telah dikembangkan termasuk tombol, lekukan dan dovetails yang digunakan untuk membentuk sendi antara batu dan mengikatnya tanpa mortar. Kemajuan arsitektur penting lainnya meliputi: atap, relung, dan gerbang melengkung yang dibangun dengan cara corbelling.

Pencarian ilmiah dan penelitian sistematis sesuai dengan metode ilmiah modern mulai berkembang dan berkembang di Indonesia selama periode Hindia Belanda, dimulai pada abad ke-19. Hindia Belanda telah menarik para intelektual, ilmuwan dan peneliti. Beberapa ilmuwan terkenal yang melakukan sebagian besar penelitian penting mereka di kepulauan Hindia Timur adalah Teijsmann, Junghuhn, Eijkman, Dubois dan Wallace. Banyak lembaga seni, budaya dan sains penting didirikan di Hindia Belanda. Sebagai contoh, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen,(Royal Batavian Society of Arts and Sciences), pendahulu dari Museum Nasional Indonesia, didirikan pada tahun 1778 dengan tujuan untuk mempromosikan penelitian dan mempublikasikan temuan di bidang seni dan ilmu pengetahuan, terutama sejarah, arkeologi, etnografi dan fisika. Kebun Raya Bogor dengan Herbarium Bogoriense dan Museum Zoologicum Bogoriense adalah pusat utama untuk penelitian botani yang didirikan pada tahun 1817, dengan tujuan untuk mempelajari flora dan fauna nusantara.

Manusia Jawa ditemukan oleh Eugène Dubois pada tahun 1891. Komodo pertama kali dijelaskan oleh Peter Ouwens pada tahun 1912, setelah kecelakaan pesawat terbang pada tahun 1911 dan desas-desus tentang dinosaurus hidup di Pulau Komodo pada tahun 1910. Vitamin B1 dan hubungannya dengan penyakit beri-beri ditemukan oleh Eijkman selama bekerja di Hindia.

Dengan meningkatnya minat dalam penelitian ilmiah, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Natuurwetenschappelijke Raad voor Nederlandsch-Indië (Dewan Ilmiah Hindia Belanda) pada tahun 1928. Ini beroperasi sebagai organisasi penelitian utama negara itu sampai pecahnya Perang Pasifik pada tahun 1942. Pada tahun 1948 lembaga ini berganti nama menjadi Organisatie voor Natuurwetenschappelijk Onderzoek (OPIPA, Organisasi untuk Penelitian Ilmiah).

Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah terus memelihara pengembangan dan pengejaran ilmiah, melalui lembaga pemerintah. Pada tahun 1956 OPIPA dinasionalisasi sebagai Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI, Dewan Ilmu Pengetahuan Indonesia). Kemudian pada tahun 1962 pemerintah mendirikan Departemen Urusan Riset Nasional (DURENAS, Departemen Riset Nasional), sementara MIPI bertanggung jawab untuk mendirikan dan mengoperasikan berbagai Lembaga Penelitian Nasional. Dan pada tahun 1966 pemerintah mengubah status DURENAS menjadi Lembaga Riset Nasional (LEMRENAS) (Lembaga Riset Nasional). Pada bulan Agustus 1967 pemerintah membubarkan LEMRENAS dan MIPI dan mendirikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini, yang menjalankan upaya ilmiah dan operasi yang sebelumnya dilakukan oleh LEMRENAS dan MIPI. [18]

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *